Nankurunaisa adalah istilah Okinawa, wilayah Jepang paling Selatan, yang diucapkan ketika suatu pekerjaan akan dimulai. Berusaha sekuatnya, apa pun yang akan terjadi. Kurang lebih demikian artinya. Nankurunaisa menjadi suplemen ketika pertama kali muncul ide untuk membentuk kelompok Eisa di Indonesia. Pada waktu itu, sama sekali tidak terbayang akan menjadi seperti apa kelompok ini.
Eisa sendiri berarti tarian rakyat Okinawa yang menggunakan taiko, genderang tradisional Jepang, sambil sesekali berteriak ‘Hiyasaasaa‘, untuk pembangkit semangat. Berbeda dengan anggapan kebanyakan orang bahwa taiko ditabuh sebagai penyemangat saat perang, di Eisa, taiko ditabuh sebagai pembawa pesan perdamaian. Terdapat tiga jenis taiko yang digunakan yaitu odaiko yang berukuran besar, shimedaiko atau taiko sedang, dan paranku yang ukurannya kecil.
Biasanya Eisa dilakukan selama perayaan Obon pada Agustus. Esensi Obon adalah merayakan kembalinya arwah nenek moyang ke bumi selama tiga hari. Di hari pertama, orang Okinawa menarikan Eisa untuk menyambut kedatangan arwah nenek moyang. Di hari kedua, Eisa dilakukan untuk menghibur arwah nenek moyang. Lalu di hari ketiga, Eisa ditarikan untuk mengantar arwah nenek moyang pergi.
Bagian kostum paling umum yang menjadi ciri khas Eisa adalah mansaji atau ikat kepala. Mansaji yang sering dijumpai adalah yang berwarna merah, ungu, kuning, merah muda, dan biru. Selain mansaji, ciri khas lainnya yaitu kyahan atau penutup betis. Biasanya kyahan berwarna hitam bergaris putih seperti penutup pergelangan tangan Polantas Indonesia.
Selain pemain taiko, di formasi dasar Eisa juga terdapat hatagashira atau pembawa bendera, te odori atau penari tanpa alat, chondara atau penari bermuka putih yang gerakannya sangat lucu, dan jikata atau pemain sanshin.
Sanshin adalah alat musik petik bersenar tiga khas Okinawa yang merupakan pengembangan dari alat musik petik sanxian dari Cina. Jikata akan memetik sanshin sambil menyanyikan lagu-lagu tradisional Okinawa untuk mengiringi Eisa. Dalam situasi tertentu, keberadaan jikata dan sanshin bisa digantikan dengan musik dari CD atau alat musik lainnya. Bahkan di grup Eisa modern banyak digunakan lagu pop dan lagu tradisional yang telah diberi sentuhan irama samba atau disko.
Sekarang Eisa tidak hanya berkembang di Okinawa, tetapi juga telah meluas ke berbagai negara, salah satunya Indonesia. Kelompok Eisa di Indonesia resmi berdiri pada 9 November 2002 atas prakarsa Venita Ninanda atau biasa dipanggil Pepen. Perkembangan Eisa di Indonesia tidak lepas dari kunjungan grup Eisa besar seperti Ryukyu-koku Matsuri Daiko dan Moromizato Seinenkai pada 1990-an. Sebagai kenang-kenangan, mereka meninggalkan sebagian properti kepada perkumpulan Okinawa. Pada 1998, salah satu anggota perkumpulan tersebut yaitu Yuko Fukuhara mempercayakan taiko dan video pementasan Eisa kepada Pepen dan teman-temannya.
Awalnya, kelompok ini bernama Taiko Okinawa. Pada 2004, kelompok ini berganti nama menjadi U-Maku Eisa Shinka Indonesia. U-maku berarti ’semangat’ atau ‘energik’. Eisa adalah jenis tarian. Shinka berarti sahabat. Jadi U-Maku Eisa Shinka Indonesia dapat diartikan sebagai sahabat-sahabat Eisa di Indonesia yang penuh semangat. Kelompok ini didirikan untuk memperkenalkan dan mengembangkan Eisa di Indonesia.
Dimulai dengan anggota yang berjumlah kurang dari 10 orang, kelompok ini mempelajari Eisa melalui video dari Yuko. Pada 2006, Pepen dan Marissa berkesempatan mengunjungi Okinawa untuk mempelajari Eisa modern dari grup Kobudo Taikoshudan Kajimaai.
Selain latihan rutin setiap Minggu, U-Maku Eisa juga melakukan pementasan di berbagai tempat, lokakarya ke sekolah-sekolah, pameran foto, dan acara bincang-bincang. Saat ini, anggota U-Maku Eisa terdiri atas pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, pegawai kantoran dan wiraswasta.
Jumlah anggota yang semakin banyak membuat kami memutuskan, mulai 2007, pembukaan anggota baru hanya dilakukan pada Mei dan November. Jika ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang U-Maku Eisa Shinka Indonesia, buka saja http://www.friendster.com/umakushinka atau http://umakueisa.multiply.com.
Author: Venita Ninanda (Pepen)
Source: http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTQyMTE=
Terbit di koran Media Indonesia: Minggu, 04 Januari 2009
Entries (RSS)