“Oia! Lokasinya d mana sih? Cz humz w bkan daerh jakrta!” (baca: Oh ya! Lokasinya di mana sih? Soalnya rumahku bukan daerah Jakarta!)
Kalimat yang menanyakan tempat latihan seperti itu sering muncul di SMS dan halaman komentar Friendster milik U-Maku Eisa. Tempat latihan bisa menjadi masalah besar untuk kelompok dengan anggota tersebar di Jabodetabek dan Bandung. Jika berlatih di dalam gedung, menyewa selama 4-5 jam per kedatangan adalah kemewahan untuk anggota yang sebagian besar mahasiswa dan pelajar. Pilihannya, berlatih di lapangan terbuka.
Sayang sekali tidak banyak lapangan terbuka yang bebas digunakan di Jakarta. Senayan akhirnya diputuskan sebagai tempat latihan kami. Selain dilewati bis berbagai jurusan, di Senayan banyak pilihan lahan kosong nan rindang.
Di Okinawa sendiri, latihan Eisa biasanya dilakukan di masa Festival Obon setiap Juli, Agustus, dan September. Para pemain Eisa bebas memukul taiko-nya sekuat tenaga. Di luar itu, umumnya latihan dilakukan tanpa taiko. Atau, memakai taiko tapi melapisinya dengan kain sehingga suara tetabuhan yang keluar sangat minim. Sementara itu, kami di Senayan dapat menabuh sepuasnya.
Entah sudah berapa kali kami berpindah tempat mencari lokasi yang nyaman ditempati. Dimulai dari area seputar lintasan lari, berpindah ke jalan masuk ke arah stadion, lalu berpindah lagi ke area plaza yang kosong. Tempat latihan kami saat ini adalah lapangan parkir yang dibatasi pintu gerbang ke jalan raya. Pintu gerbang itu diikat dengan rantai yang hanya dibuka jika lapangan parkir digunakan.
Bagi kami, menerobos sela-sela pintu gerbang untuk memasukinya terasa seperti sebuah petualangan. Sementara itu, anggota yang membawa taiko dan yang berbadan besar harus rela berputar agak jauh, masuk melewati pintu masuk utama.
Tempat latihan ini tak pernah sepi dari suporter. Misalnya orang-orang yang tengah beristirahat di rindangnya pepohonan maupun pedagang keliling. Pertama kali kami datang, ada yang senang mendapat tontonan gratis, ada pula yang kesal karena tidur siangnya terganggu. Pemandangan kami menabuh taiko sementara tetangga kami menabuh panci dengan maksud mengusir sering terjadi. Di sini kami belajar mengenali mana area yang aman kami gunakan, mana area yang sebaiknya dijauhi agar semua merasa nyaman dengan keberadaan kami. Entah sejak kapan, para suporter ini hafal dengan teriakan ‘Hi~ya~sa~sa~!‘ kami saat latihan. Di luar waktu latihan pun, terkadang mereka spontan ber-hiyasasa saat berpapasan dengan kami.
Penderitaan muncul jika ada acara yang diselenggarakan di gedung terdekat atau di Stadion Gelora Bung Karno. Sama halnya jika turun hujan deras. Di saat-saat seperti itu, bantuan datang dari suporter yang menunjukkan lokasi baru yang dapat digunakan untuk sementara. Bapak, Ibu, Mas, Mbak, terima kasih banyak buat informasinya!
Yang paling mengesalkan yang pernah dialami adalah bila ada yang beringsut mendekat. Tak lama kemudian memberi isyarat meminta uang rokok. Ketika hal itu terjadi, sayonara tempat latihan lama!
Apakah lokasi yang sekarang akan menjadi tempat latihan tetap kami untuk selamanya? Belum tentu. Tetapi jika ingin mencari di mana kami saat latihan di Senayan, bertanyalah pada pedagang keliling tentang kelompok berisik yang selalu berteriak hiyasasa. Insya Allah ketemu.M-5
Author : Maully Fedista
Source : http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTQyMDk=
Terbit di koran Media Indonesia: Minggu, 04 Januari 2009
Entries (RSS)