Sol sepatu kiri menipis dan bolong sudah biasa bagi anggota komunitas ini. Tak mengherankan jika gerakan Eisa yang didasari pivot karate banyak menggunakan tumpuan kaki kiri untuk berputar. Apalagi putaran dilakukan sambil melompat dan menabuh taiko. Sudah pasti dibutuhkan pemanasan yang cukup dan konsentrasi tinggi dalam melakukannya. Bila terlupakan, terkilir ataupun memar adalah risiko yang harus dihadapi.

Penyebab cedera lainnya adalah licinnya lantai yang membuat kaki-kaki yang sedang beraksi terpeleset. Sering kali panggung dilapisi karpet dengan alasan tertentu. Alih-alih menambah kenyamanan, malah menghambat gerakan dan membuat karpet berantakan. Terlebih jika karpet tidak direkatkan dengan baik, jangan harap karpet tidak akan berpindah tempat.

Apa yang terjadi jika U-Maku Eisa disuguhi panggung yang konstruksinya rapuh dan tidak rata? Kaki terkilir. Apakah hanya itu? Jangan terkejut. Panggung pernah patah karena hentakan dan lompatan Eisa yang sangat energik. Mematahkan bachi, stik pemukul taiko ataupun melubangi taiko juga sudah bukan hal aneh lagi. Ketika U-Maku Eisa beraksi, tenaga yang dikeluarkan tak dapat terbendung oleh apa pun.

Dari mana sebenarnya asal kekuatan para pemain Eisa ini? Sudah tentu stamina yang bandel tersebut dicapai bukan dengan latihan sebentar. Latihan rutin seminggu sekali dari pukul 1 hingga 5 terkadang tidak terasa cukup. Bila situasi memungkinkan, tak jarang diadakan latihan tambahan. Menu pembuka yang biasa dilahap adalah pemanasan dan lari keliling. Lanjut ke menu utama yaitu run through seluruh lagu berkali-kali. Semuanya dilakukan secara bertahap.

U-Maku Eisa tidak hanya menekankan pada latihan teknik. Cara mengekspresikan lagu adalah sesuatu yang tak kalah penting. Tidak perlu menjadi seperti orang Okinawa ketika bermain Eisa. Selama perasaan pemain Eisa dapat tersampaikan ke penonton, itu sudah cukup. Pertunjukan dapat dikatakan sukses apabila pemain Eisa dan penonton dapat melebur menjadi satu melalui ritme lagu, gerakan, dan ketukan taiko.

Patut disadari, pemain Eisa hanyalah manusia biasa. Kesalahan dapat saja terjadi saat pementasan berlangsung. Hal itu wajar dan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Bukanlah hal yang mudah untuk berimprovisasi dengan tenang. Sederet ‘aib’ yang pernah terjadi antara lain salah arah, bachi terlempar, paranku menggelinding, odaiko terlepas dari talinya, resleting celana terbuka, kaus sobek, hingga mansaji terlepas dan menutupi wajah. Semuanya mesti tetap dinikmati sambil tersenyum simpul.

Banyak pula kekonyolan di luar panggung yang membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Walau sudah tahu gerakan Eisa terdiri dari putaran dan loncatan, tapi sewaktu disodorkan makanan berat tepat sebelum naik panggung, tetap saja dihabiskan tanpa meninggalkan sisa. Akibatnya, gerakan tariannya jadi tambah enggak banget.

Berkonvoi dengan taksi sudah biasa karena hanya sedikit yang bisa diangkut mobil pribadi. Di dalam satu taksi yang dikhususkan untuk mengangkut properti Eisa, hampir tak ada celah untuk duduk berleha-leha. Karena paling memakan tempat, odaiko menempati kursi penumpang di sebelah sopir. Kebanyakan sopir taksi bertanya-tanya keheranan dan iseng menepuk-nepuk permukaan odaiko.

Kecintaan pada Eisa tidak hanya dapat diekspresikan melalui latihan rutin dan pementasan. Ketika diketahui ada sebuah tempat karaoke di bilangan Jakarta Selatan yang memasok lagu-lagu Eisa, sontak anggota U-Maku Eisa menyerbu tempat tersebut dengan membawa beberapa paranku. Bisa menebak apa yang terjadi? Latihan Eisa berpindah tempat ke ruang karaoke. Yeah, have fun go mad. M-5

Author : Heti Novela
Source : http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTQyMTA=
Terbit di koran Media Indonesia: Minggu, 04 Januari 2009

Leave a Reply